Menjadi Berarti Bagi Orang Lain

Posted: January 15, 2010 in Journal

Thursday, 23 July 2009

Pagi ini ada hal yang menarik terjadi, salah seorang staf saya mengatakan dipanggil mendadak oleh salah seorang direktur. Sebelum menghadap, dia bertanya kenapa tiba-tiba dipanggil, saya dengan santainya bilang, naik jabatan kali..promo. Kurang lebih setengah jam kemudian, dia balik, duduk di depan saya dan mengeluarkan amplop yang ternyata berisi surat keputusan direktur tentang promosinya sebagai senior staf. Alhamdulillah, apa yang telah saya coba lakukan disetujui sama manajemen dan di-ridhoi Allah. Dia langsung menyalami saya dan mengucapkan terima kasih karena sudah “memperjuangkan” nasibnya yang selama ini tidak ada yang “peduli”.

Dalam hati saya berkata, ya Allah sesungguhnya jika Engkau berkehendak, memang tidak ada yang bisa menghalangi. Sebenarnya yang saya lakukan adalah hal yang wajar, yang tidak wajar justru kalau dia tidak diperhatikan atau dihargai lebih, dalam bentuk promosi jabatan. Bayangkan, dengan masa kerja 7 tahunan, gaji “standar“ atau boleh dibilang kebangetan. Secara, orangnya tidak banyak ulah, jujur, bertanggungjawab dan berdedikasi terhadap pekerjaan (sesuai namanya..dedi), walau cuma dapat imbalan alias gaji pas-pasan, mungkin itu perbedaan dia sama saya yang masih kurang bersyukur ya..

Entah kenapa, dari dulu saya paling tidak suka melihat kondisi seseorang yang diperlakukan tidak sesuai dengan apa yang telah diperbuatnya. Apalagi kalau orang itu berkaitan langsung sama saya, terutama dalam pekerjaan, pasti akan cari jalan bagaimana orang ini bisa lebih dihargai, tentunya dengan observasi tersendiri apakah orang ini layak untuk dihargai lebih serta wewenang yang saya punya. Kalau dirunut ke belakang, selalu begitu, walau pun tidak semuanya berhasil.

Yang menjadi pelajaran bagi saya hari ini adalah apakah saya telah menjadi berarti bagi orang lain? Saya tidak mau berpikir buat dihargai, disegani atau mengharapkan dihormati, Insya Allah saya berusaha selalu ikhlas dengan apa yang telah dilakukan. Ikhlas? Hmmm.. entahlah, karena saya kadang berpikir ketika itu menjadi tidak berhasil, mungkin ada ketidakikhlasan melakukan atau menolongnya, ada pengharapan lain yang secara sadar atau tidak muncul di hati atau otak.

Ketika apa yang saya usahakan berhasil, dan orang yang menerima berkah tersebut langsung ber-ekspresi gembira di hadapan saya, hati saya sebenarnya cukup sensitif..merasa menjadi berarti bagi orang tersebut dan menjadi bangga sendiri karena ikhlas melakukannya, tidak mengharapkan apa pun, eh ada mungkin, dia bekerja lebih baik dan bisa menjadi spirit bagi yang lain kalau saya tidak menutup mata jika mereka bekerja dengan baik dan berprestasi serta memang memang pantas dapatkan, nah ini jadi tidak ikhlas ya? Karena memang pernah juga, ketika sudah berusaha dan berhasil ternyata orang itu melupakan saya atau malah menjadikan saya sebagai batu lonjatan saja, saya kecewa dan merasa jadi sakit hati.

Menjadi berarti bagi orang lain? Perlu tidak sebenarnya? Saya belum bisa menjawabnya karena yang sering sekali kita dengar waktu kecil dan sampai sekarang pun menyuruh kita untuk menjadi orang yang berarti seperti ’menjadi anak yang berbakti bagi orang tua, orang lain, negara, bla…bla..’ atau ’melakukan sesuatu yang berarti bagi ilmu, masyarakat’ dan sebagainya, seperti menjadi jargon atau dogma.

Kesimpulan yang baru bisa saya ambil hari ini adalah, biar orang yang menilai apakah kita menjadi orang yang berarti bagi mereka, atau tidak perlu sama sekali, karena jika kita sendiri yang menilai akan bisa menimbulkan kesombongan, mungkin tidak di hadapan orang lain, tapi diperilaku kita sehari-hari yang tidak kita sadari dan tentunya itu dihadapan Allah. Semoga tidak terjadi pada diri saya.

Jadi kalau ada hal yang mesti dilakukan buat orang lain kenapa tidak, jangan berharap menjadi bagian sejarah dari hidup orang tersebut, just do the best and lets God do the rest yang penting ikhlas, sesungguhnya tidak ada yang sia-sia atas setiap perbuatan yang kita lakukan.

Hati yang Jujur Menghasilkan Tindakan-Tindakan yang Jujur

~Mario Teguh~

Comments are closed.