Mau Spesialis or Generalis

Posted: January 15, 2010 in Journal

Wednesday, 25 November 2009

Beberapa hari terakhir selalu terpikir dengan perkataan seorang teman kantor beberapa waktu yang lalu, sudah cukup lama sebenarnya tapi karena belum sempat menulis sehingga jadi suatu wacana pemikiran yang cukup mengusik hati. Sang teman menyatakan kalau sekarang ini mesti mempunyai kemampuan spesialis bukan lagi generalis walaupun untuk mencapai posisi puncak di perusahaan kita mesti mempunyai kemampuan generalis juga. Nah??

Spesialis disini adalah kemampuan dalam suatu bidang pekerjaan, kalau relevansi dengan pekerjaan saya sekarang, pertanyaannya adalah apakah akan menjadi accountant sejati, khususnya di internal perusahaan yang berfungsi menyediakan laporan keuangan lengkap dengan tetek bengeknya, seperti analisa laporan keuangan, laporan performa, perpajakan, budget dan segala macam yang terkait dengan angka-angka.

Ibarat kata orang-orang, sekarang ini yang dibayar mahal kalau sakit, ya dokter spesialis bukan dokter umum, mungkin analogi ini kurang tepat juga kalau dikaitkan dengan kebutuhan perusahaan yang selalu menuntut kita melakukan setiap tugas yang diberikan. Please don’t say no, always say yes i’’ll do it or at least i’ll try, walau setelah itu terpontang panting mencari source kemana-mana dan tetap berusaha perform terhadap penugasan yang diberikan.

Menjadi spesialis atau generalis entah kenapa kembali ditanyakan oleh seorang direktur perusahaan besar dalam suatu kesempatan, dia bertanya dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan mau jadi apa? seorang spesialis atau generalis, satu pertanyaan yang susah-susah gampang dijawab. Karena keduanya sama-sama dibutuhkan tergantung apa yang akan dituju nantinya dan mana yang paling nyaman dijalani.

Kalau melihat ke belakang, selama ini pekerjaan yang saya jalani mungkin telah mengalami kedua kondisi tersebut. Sewaktu jadi auditor, itu sudah merupakan pekerjaan spesialis yakni melakukan audit walau kebanyakan penugasan masih general audit dengan berbagai macam bidang usaha tidak terspesifikasi untuk klien bisnis atau industri tertentu. Kemudian juga pernah melakukan pekerjaan generalis, mulai dari keuangan, akuntansi, pajak, hrd, ga sampai it. Segitu banyaknya walaupun mungkin dalam skala kecil namun efeknya jadi tidak memahami suatu pekerjaan secara mendalam, namun cukup membuat saya bisa masuk ke dalam berbagai pembicaraan dan menjalaninya lebih berwarna karena selalu berbeda yang dihadapi.

Secara mendasar, memang saya bukan orang yang betah-an terhadap sesuatu. Begitu banyaknya bidang atau hal yang menarik perhatian, sehingga sampai saat ini belum mempunyai hobi yang jelas salah satu contohnya. Masih suka melakukan sesuatu yang menurut pemikiran saya enak dan menyenangkan dilakukan, mulai dari pelihara ikan, waktu kecil dulu sih,  main games, sampai sekarang masih kepengen juga dan kadang terlalu menikmati,  otak atik komputer, walau hanya begitu-begitu saja tidak sampai tahap menguasai keahlian tertentu, modifikasi motor juga pernah tapi tidak serius karena high cost ternyata, koleksi mobil-mobil yang ternyata mentok juga. Sekarang ini mulai menekuni fotografi dan sepertinya sangat menarik walau sebenarnya ini hobi mahal buat saya.

Dalam fotografi banyak hal yang bisa dituangkan, bisa mengambil gambar dengan kualitas bagus serta penuh dengan “art” sebagai suatu kepuasan tersendiri. Motret ibarat melukis tapi dengan cahaya, dan masih bisa diotak atiknya di komputer sehingga menghasilkan foto yang penuh imajinasi, tapi belum bisa, masih tahap belajar karena ternyata sulit juga, semoga ini tidak menjadikan saya bosan dan merasa mentok karena semua hobi yang pernah dijalani berakhir karena merasa tidak berkembang lagi atau mungkin kata yang paling tepat adalah semakin didalami kok semakin bego’.

Terkait dengan pertanyaan yang menggelitik tadi, sepertinya dari memang saatnya harus memutuskan apakah menjadi spesialis atau generalis. Dengan latar belakang sekarang, seharusnya menjadi seorang spesialis karena dari pekerjaan yang dijalani saat ini telah menuntut untuk menjadi seorang spesialis, jadi accountant. Namun dalam konteks perusahaan, terutama perusahaan menengah, sering tidak dituntut seorang spesialis tetapi seorang generalis karena hanya akan menambah cost perusahaan jika harus membuat spesialisasi tertentu. Sehingga kalau diliat sekarang ini seorang spesialis sering lahir atau berkarir di perusahaan konsultan. Seorang konsultan ibarat nabi di bidangnya karena memang itu lah yang menjadi barang dagangnya sebagai orang yang experience di bidangnya.

Sekarang mau jadi speasialis or generalis?? Let time will tell or tell the time what am i wanna be.

Comments are closed.