Cari Kerja itu Susah (Gampang)

Posted: January 15, 2010 in Journal

Tuesday, 28 July 2009

Pagi ini memeriksa hasil tes beberapa kandidat untuk staf pengganti di departemen saya yang resigned. Hasilnya jauh dari ekspektasi, benar-benar kurang memenuhi kualifikasi yang saya inginkan. Tapi jadi berpikir juga kalau menginginkan calon yang qualified, perusahaan mampu bayar ga? Karena posisinya hanya clerikal untuk verifikasi transaksi harian sehingga tidak perlu yang bagus juga.. mungkin, yang penting mengerti jurnal standar dan rekonsiliasi bank, kalau pun tidak bisa juga, nanti bisa diajarin. Jadi terpaksa mesti diputuskan apakah akan meng-hire salah satu dari kandidat tersebut “best from the worst” mungkin bahasanya kurang bagus ya, bukan maksud untuk melecehkan mereka tapi cuma itu yang ada dan sesuai dengan budget ;-) Mungkin tugas saya dan teman-teman disini untuk meng-upgrade kemampuan kandidat yang nanti diterima.

Kalau melihat hasil tes tersebut, saya jadi teringat kembali pada saat mencari kerja pertama kali ketika menjejakkan kaki di Jakarta. Berangkat dari “kampung” dengan optimis, bermodalkan penjualan PC kesayangan saya :-) . Saya tidak tahu, apakah perasaan ini cuma saya yang miliki, pada saat selesai kuliah, ada keyakinan akan memperoleh pekerjaan dengan cepat, setidaknya kerja di perusahaan kecil dulu, masak ga dapat, kan ribuan perusahaan di Jakarta.

Ternyata tidak seperti yang dibayangkan, lebih dari 6 bulan, saya menghabiskan cukup banyak uang untuk mengirimkan lamaran ke perusahaan yang buka lowongan di koran. Tahun 2001, belum mengenal kirim lamaran lewat email, semua pakai amplop dan setiap senin siang menjadi rutinitas mengirimkan lamaran yang minimalnya mencapai 10 lamaran dan berharap ada yang memanggil buat tes. Kalau dihitung perbandingan antara mengirimkan lamaran dengan yang dipanggil kira-kira 1:20 mungkin (1 panggilan tes buat 20 lamaran), bisa jadi lebih besar lagi perbandingannya :-)

Pemikiran saya mulai berubah, tidak mungkin untuk masuk perusahaan, karena IPK pas-pasan, kalau orang Padang bilang “lapeh makan”, syarat lulus aja. Syarat administrasi pun sering tidak masuk kualifikasi, apalagi dipanggil tes. Kalau pun tes keahlian, benar-benar kosong, sama seperti hasil tes yang ada di depan saya ini (makanya saya tidak melecehkan para pelamar tersebut, karena saya juga seperti itu dulu). Akhirnya memutuskan jalur auditor, masuk ke kantor akuntan publik, walau pun saya berpikir ngapain sih ngurusin angka-angka, dan ternyata sampai hari ini saya masih melakoninya..

Saya masih ingat, mengalami masa-masa mengantarkan lamaran langsung dengan jalan kaki, setelah memetakan kantor akuntan publik yang berada di wilayah tersebut. Kalau dipikir lagi dan disuruh jalan kaki sekarang, waahh ga sanggup lagi deh (mungkin itu yang namanya semangat pada waktu itu ya).

Saya baru memperoleh pekerjaan, itu pun ikut dengan senior saya di kuliah dulu (makasih da), yang kebetulan menawarkan jadi auditor walaupun cuma kontrak 6 bulan. Alhamdulillah yang penting kerja dulu, daripada pulang kampung tidak berhasil, kan malu. Oya, selama masa 6 bulan ini terjadi penurunan tingkat kepercayaan diri, menjadi orang yang sensitif, gampang tersinggung, jadi sedih kalau lihat teman-teman kos pulang kerja, negative minded.

Sejak jadi auditor ini, saya berpikir untuk mengejar ketertinggalan, masak tamat kuliah udah telat, nilai pas-pasan, kepala ga ada isinya, harus menjadi karyawan yang cuma bekerja begitu-begitu aja. Masa 6 bulan itu saya manfaatkan untuk belajar, kebetulan ada teman-teman kuliah lain yang ikut, saya beli buku pelajaran akuntansi, audit dari dasar lagi untuk mendukung pekerjaan secara teori dan praktek berjalan sama.

Setelah 6 bulan, ada sedikit ketakutan lagi, masa kontrak habis, mau kemana?? tapi saya coba berpikir positif, kalau saya meningkatkan kualitas diri pribadi, mungkin akan relatif lebih mudah untuk mencari pekerjaan dan setidaknya udah punya sedikit pengalaman. Jalani aja sambil terus belajar dan belajar, saya bekerja buat diri saya, meng-create value dari apa yang telah saya kerjakan terutama buat diri saya sendiri, biarkan perusahaan menikmati achievement tersebut.

Ternyata, sejak pengalaman kerja pertama kali tersebut, Alhamdulillah saya bisa berpindah-pindah kerja. Sampai saat ini record kerja terlama saya di satu tempat cuma 2 tahun aja. Kata orang kutu loncat, tapi entahlah karena menurut saya itu adalah hak untuk terus lebih baik meski banyak juga yang harus dikorbankan serta mungkin karakter juga yang bukan tipe betahan terhadap suatu kondisi pekerjaan. Someday i will/must stop..

Kembali kepada hasil tes calon karyawan tadi, saya berpikir mereka ini adalah saya 8 tahun yang lalu. Tidak mempunyai nilai jual, berharap mendapatkan pekerjaan namun tidak mempunyai nilai lebih untuk pantas mendapatkan pekerjaan tersebut. Apakah ini memang merupakan  siklus hidup? Tapi bagaimana dengan mereka yang begitu mudahnya mendapatkan pekerjaan?

Setiap orang berhak untuk memperoleh kesempatan dan membuktikan bahwa mereka sebenarnya layak. Namun disatu sisi, perusahaan juga bukan lembaga training yang menyediakan tempat belajar, perusahaan butuh orang yang bisa memenuhi tujuannya dengan standar-standar yang ada.

Saya cuma bisa menyarankan untuk terus meningkatkan kualitas diri, pelajari kekurangan dan terus mengurangi kekurangan tersebut, baik dari sisi keilmuan, keahlian (hardskill) maupun softskill seperti komunikasi dan kepemimpinan . Kembangkan terus kekuatan yang dimiliki, tumbuhkan rasa percaya diri bahwa “saya bisa”, mampu dan layak menduduki jabatan yang diinginkan. Jangan terlalu bangga dengan tittle yang melekat saat ini, percayalah banyak orang-orang yang lebih baik dan berkualitas di luar sana.. No Pain No Gain.

Tanamkan dalam pikiran bahwa “bekerja untuk diri sendiri”, saya selalu berprinsip untuk loyal terhadap pekerjaan dan keahlian saya, berdedikasi terhadap apa yang saya lakukan dan yang akan menikmati itu semua nanti adalah diri saya sendiri, perusahaan hanya efek dari motivasi itu saja..

Comments are closed.