Bekerja untuk Orang Lain, Masih Menjadi Pilihan

Posted: January 15, 2010 in Journal

Sunday, 17 August 2009

Saya jadi teringat beberapa minggu yang lalu saat melakukan interview, bareng dengan hrd, buat penggantian staf di departemen saya. Sedikit terlambat dari appointment, sesuatu yang kata orang wajar, merupakan bagian dari proses seleksi berupa ujian kesabaran si calon untuk menunggu. Jadi ingat ketika masuk perusahaan ini, saya juga harus menunggu hampir 4 jam, dan sudah berpikir untuk pulang saja daripada ketinggalan pesawat. Bagian dari profesionalisme atau memang sudah kebiasaan? saya selalu berpikir untuk tetap komit dengan appointment.

Kembali ke proses interview tersebut, saya mengamati, ternyata semua calon staf menjawab dengan suatu”scheme” yang sudah dibenamkan ke dalam otak mereka bahwa akan ditanya hal-hal standar, seperti kelemahan dan kekuatan apa, mengapa memilih pekerjaan ini, apa yang diketahui mengenai perusahaan ini, berapa gaji yang diminta dan sebagainya. Saya tidak memahami, mengapa mereka sudah membatasi diri dengan menjawab dengan jawaban yang seolah-olah sudah disiapkan dan dihafalkan di kepala mereka, ataukah memang pertanyaan tersebut yang selalu muncul dalam setiap interview?

Ya, karena dari beberapa buku-buku yang beredar di toko-toko buku tentang cara menghadapi pertanyaan seputar interview pekerjaan, semuanya pasti akan memberikan tips dan trick atas pertanyaan standar seperti di atas dengan pola jawaban yang “tepat”. Benar yang disampaikan buku-buku itu, tapi interviewer, seorang hrd atau pun saya yang tidak punya basic hrd, pasti bisa menangkap bahwa jawaban tersebut sangat normatif sekali, suatu jawaban dengan kondisi yang ideal sehingga tidak terdengar “jujur” lagi mengenai diri mereka sendiri. Cenderung tidak mempunyai keberanian “menjual diri” lebih jauh lagi, dengan posisi defense menunggu pertanyaan demi pertanyaan untuk kemudian dijawab dengan hafalan yang sudah di prepare dari rumah.

Terlepas dari hal tersebut di atas, saya tidak memberikan suggest dalam menghadapi wawancara, karena semua yang dipaparkan dalam buku-buku tersebut sudah sangat lengkap, tinggal bagaimana membaca kebutuhan si interviewer sehingga tidak terpaku dengan jawaban-jawaban pragmatis dan normatif.

Satu hal yang menarik perhatian saya saat me-wawancara salah seorang kandidat adalah ternyata dia sudah mempunyai usaha sendiri, walau masih punya orang tuanya. Dia mempunyai lahan yang disewakan untuk penyewaan pemancingan. Mekanismenya, si penyewa membayar Rp 14.000/kg untuk kemudian dipancing tanpa pembatasan waktu dan berapa kg pun hasil pancingannya. Rata-rata sehari dia bisa menjual 50 kg dengan waktu pancing 24 jam, gila juga kapan istirahatnya ya? Sebagai seorang accountant, otak saya langsung mengkalkulasikan income ini orang, takut juga menawarkan gajinya mau berapa nih. Sehari dia punya omzet Rp 700.000 atau minimal Rp 17.500.000/bulan.

Katanya dia bisa memperoleh bersih 50% dari omzet tersebut. Menarik, dia sudah mempunyai penghasilan yang jauh daripada yang bakal diperoleh jika bekerja di perusahaan ini. Tapi ternyata dia tetap tertarik untuk bekerja di suatu perusahaan, alasannya sederhana, ingin menjadi manajer suatu saat, mungkin 5 tahun ke depan, menggunakan ilmu yang dipelajarinya, dia bisa merintis mimpinya dan kebetulan kakaknya tamatan akuntansi semua. Ketika saya bertanya, pernahkah kamu membuat laporan keuangan usahanya? Jawabnya tidak, manajemen “mesjid”, hanya catatan uang masuk dan uang keluar saja. Artinya dia sendiri tidak mulai dari yang kecil lebih dahulu untuk mengelola usahanya sendiri yang mungkin lebih prospektif dibandingkan dia bekerja di perusahaan ini. Saya cuma bilang, coba kamu itung, bisa belajar dan menerapkan ilmu yang diperoleh, dan saya berharap dia berubah pikiran untuk bekerja untuk orang lain nantinya.

Itulah pilihan, kalau kembali ke diri sendiri, saya termasuk orang yang tidak betah dengan pekerjaan yang itu-itu saja. Mempunyai cita-cita untuk mempunyai usaha sendiri, bekerja untuk diri sendiri, mengelola sesuai dengan konsep yang saya inginkan, tidak dibatasi oleh atasan atau pemilik modal. Ternyata sulit memang, dari sejak kecil saya sudah “melatih” diri untuk jadi pedagang, maklum orang minang. Pernah dagang es saat ada kegiatan di gelanggang olahraga dekat rumah atau jual permen “cabutan” yang ada hadiahnya.

Waktu kuliah buka usaha rental komputer bersama teman-teman, gagal karena kiris ekonomi dan malah kuliah jadi berantakan. Konsepnya bagus sebenarnya karena pertama kalinya ada rental komputer di kota Padang dengan basis Windows dan Microsoft Office, dengan mengumpulkan komputer di rumah masing-masing. Masak, buka usaha jam 4 sore sampai jam 4 pagi, mengerjakan orderan jasa pengetikan rame-rame, akibatnya hidup jadi tidak teratur. Tempat usahanya sering jadi markas buat persiapan demo di kampus atau Sumbar. Maklum salah seorang teman dikenal sebagai aktivitis Sumbar.

Kemudian buka usaha rental games juga gagal karena baru beberapa bulan, tokonya dibobol dan peralatan digondol maling. Tapi tidak rugi banyak karena cuma jadi pemilik minoritas. Terakhir buka usaha perlengkapan safety riding sambil tetap bekerja di salah satu main dealer sepeda motor. Karena ada ketidakcocokan dengan pekerjaan, akhirnya memutuskan kembali bekerja di Jakarta, bekerja dengan orang lain lagi sehingga usahanya terbengkalai dan akhirnya di-lego.

Mentalitasnya ternyata masih mental karyawan, masih belum punya keberanian untuk mengambil sikap untuk berusaha sendiri, fighting spirit nya kurang. Bekerja sambil berusaha seharusnya bisa kata orang, tapi saya melihatnya sesuatu yang justru menjadi tidak jelas, karena akan setengah-setengah. Untuk berusaha sendiri butuh konsekuensi besar untuk fokus dengan usaha yang dimiliki dan terjun langsung. Begitu juga bekerja dengan orang lain harus menjaga profesionalisme sehingga kualitas pekerjaan sesuai dengan harapan perusahaan yang sudah membayar.

Akhirnya sekarang saya kembali menjalani hari-hari sebagai karyawan perusahaan, dengan segala konsekuensinya, tidak bisa berbuat sesuai keinginan karena adanya batasan, baik dari pimpinan maupun peraturan perusahaan itu sendiri. Hampir semua teman saya bertanya, sampai kapan kamu akan bertahan? Entahlah, saya berpikir suatu saat saya harus mempunyai usaha sendiri dan terjun full di dunia itu. Sekarang ini bekerja dengan orang lain masih menjadi pilihan, kalau pun nanti akan tetap seperti ini, semoga bisa bekerja di tempat yang bisa memenuhi rasa kenyamanan saya.

Comments are closed.