<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Benn&#039;s GoBlog</title>
	<atom:link href="http://bennydesrinaldi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bennydesrinaldi.wordpress.com</link>
	<description>the other side of me</description>
	<lastBuildDate>Thu, 07 Jul 2011 03:27:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='bennydesrinaldi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Benn&#039;s GoBlog</title>
		<link>http://bennydesrinaldi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://bennydesrinaldi.wordpress.com/osd.xml" title="Benn&#039;s GoBlog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://bennydesrinaldi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Sejarah Kamera dan Fotografi</title>
		<link>http://bennydesrinaldi.wordpress.com/2010/08/14/sejarah-kamera-dan-fotografi/</link>
		<comments>http://bennydesrinaldi.wordpress.com/2010/08/14/sejarah-kamera-dan-fotografi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Aug 2010 06:14:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>benn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Photography]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennydesrinaldi.wordpress.com/?p=705</guid>
		<description><![CDATA[Dasar-dasar fotografi mengembalikan kita sampai ke jaman Romawi kuno, dimana sejarah kamera dimulai pada abad ketujuh belas. Sejarah fotografi berkisar sekitar inovasi usaha untuk mereproduksi gambar, apakah upaya itu berhasil atau fotografi menemui akhir. Camera Obscura Sejarah fotografi kuno dapat ditelusuri kembali ke perangkat yang dikenal sebagai kamera obscura. Sebuah kamera obscura terdiri dari salah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bennydesrinaldi.wordpress.com&amp;blog=8663577&amp;post=705&amp;subd=bennydesrinaldi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dasar-dasar fotografi mengembalikan kita sampai ke jaman Romawi kuno, dimana sejarah kamera dimulai pada abad ketujuh belas. Sejarah fotografi berkisar sekitar inovasi usaha untuk mereproduksi gambar, apakah upaya itu berhasil atau fotografi menemui akhir.</p>
<p><strong>Camera Obscura</strong></p>
<p>Sejarah fotografi kuno dapat ditelusuri kembali ke perangkat yang dikenal sebagai kamera obscura. Sebuah kamera obscura terdiri dari salah satu ruang gelap atau kotak dengan lubang kecil di salah satu ujungnya. Dengan lubang yang cukup kecil, gambar terbalik dari apa yang ditangkap lubang diperbesar secara berlawanan di dinding kamera obscura.</p>
<p><span id="more-705"></span></p>
<p>Kemampuan kamera obscura untuk mereproduksi gambar akan menjadi dasar untuk lensa kamera fotografi sebagai teknologi canggih. Dengan munculnya kamera obscura, kombinasi cahaya dan proses kimia juga memasuki dunia fotografi. Pada titik ini, sejarah fotografi modern dan kamera pun dimulai.</p>
<p><strong>A Brief History of Cameras</strong></p>
<p>Penemu Perancis, Nicéphore Niepce menghasilkan gambar permanen pertama dalam sejarah fotografi. Niepce menggunakan kamera obscura dan kertas dilapisi dengan bahan kimia fotosensitif <em>(photosensitive chemicals)</em>. Waktu bukaan yang diperlukan untuk menangkap gambar bersejarah pertama adalah delapan jam, mengejutkan.</p>
<p><strong>Daguerreotype and Calotype Cameras</strong></p>
<p>Pada tahun 1829, Niepce bermitra dengan Louis Daguerre. Setelah kematian Niepce di 1833, Daguerre melanjutkan penelitiannya dengan Niepce pun dimulai. Melalui upaya yang terus-menerus, Daguerre berhasil mengurangi waktu <em>exposure</em> hanya setengah jam. Dia juga menemukan bahwa jika gambar direndam dalam garam akan membuat gambar permanen. Daguerre menamakan kembali penemuannya dengan kamera <em>obscura daguerreotype</em> dan menjual hak atas penemuan tersebut kepada pemerintah Perancis pada 1839.</p>
<p>&#8220;Daguerreomania&#8221; meledak di Eropa dan Amerika Serikat, di mana gambar permanen pada kaca dan logam menjadi populer. Namun, sementara mereproduksi gambar dengan <em>daguerreotype</em> itu populer, model baru ini bisa membuat hanya satu gambar dan tidak banyak salinan.</p>
<p>Bahkan saat <em>daguerreotypes</em> menjadi populer, langkah berikutnya dalam sejarah kamera terus berlangsung. Pada tahun 1835, penemu Inggris, William Henry Fox Talbot menciptakan kertas negatif <em>(negative paper) </em>pertama. Sembilan tahun kemudian pada tahun 1844, penemuan Talbot dipatenkan oleh Calotype. Meskipun gambar yang dihasilkan daguerreotype mempunyai kualitas yang lebih baik daripada Calotype, penemuan Talbot bisa menghasilkan beberapa salinan dari negatif tunggal.</p>
<p>Talbot juga dikenal dengan penerbitan koleksi foto pertama dalam sejarah fotografi. Pada tahun 1844, ia menerbitkan sebuah koleksi foto berjudul <em>The Pencil of Nature</em>.</p>
<p><strong>The Next Step in the History of Cameras</strong></p>
<p>Karena<em> exposure</em> <em>time</em> Calotype dan Daguerreotype masih panjang, <em>exposure time</em> lebih cepat adalah langkah berikutnya dalam sejarah kamera. Hal ini menjadi kenyataan dengan foto Collodion Frederick Scott Archer di tahun 1851. Proses Collodion mengurangi <em>exposure</em> <em>time</em> menjadi tiga detik saja.</p>
<p>Untuk mengurangi waktu <em>exposure time</em>, gambar Collodion diolah pada saat pelat fotografi masih basah. Akibatnya, sejumlah besar peralatan pengembangan harus tersedia di lokasi. Pengolahan foto dengan pelat kering masih belum tersedia hingga tahun 1871.</p>
<p>Antara tahun 1851 sampai 1871 sejumlah peristiwa terjadi dalam sejarah fotografi, antara lain:</p>
<ul>
<li>1861: James Clerk-Maxwell menciptakan sistem warna fotografi pertama, menggunakan foto hitam dan putih dengan filter warna merah, hijau dan biru.</li>
<li>1861-1865: Mathew Brady dan staf fotografinya membuat sampul depan mengenai perang Sipil Amerika.</li>
<li>1877: foto Edward Muybridge tentang langkah kuda berderap dengan cepat yang memperlihatkan kuku-kuku empat ekor kuda yang menjejak tanah sekaligus. Perputaran uang terus terjadi diantara pertumbuhan San Francisco yang kaya, yang bertaruh pada hasil.</li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Dry Plates and Box Cameras</strong></p>
<p>Pada tahun 1871, Richard Maddox menemukan gelatin dapat digunakan sebagai pengganti kaca untuk pelat fotografi. Langkah ini tidak hanya membuat pengembangan lebih cepat tetapi juga membuka jalan untuk film yang diproduksi secara massal.</p>
<p>George Eastman mengambil proses lebih lanjut dan film fleksibel pun diperkenalkan pada tahun 1884. Pada 1888, Eastman memperkenalkan kamera kotak, produk pertama dalam sejarah kamera yang tersedia untuk masyarakat umum.</p>
<p>Sejak akhir abad 19, teknologi fotografi telah berkembang dengan langkah cepat. Berikut ini adalah beberapa perkembangan dalam fotografi selama abad ke-20:</p>
<ul>
<li>1907: Film berwarna komersial pertama dikembangkan.</li>
<li>1936: Kodachrome, film berwarna berlapis-lapis, dikembangkan.</li>
<li>1937: Foto Jurnalisme menjadi bagian penting dari pelaporan berita Perang Dunia II.</li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>The Future of Cameras</strong></p>
<p>Sejarah kamera dan fotografi terus berlangsung dengan inovasi baru yang muncul secara teratur. Dengan kamera digital, amatir dan fotografer sekarang dapat mengambil beberapa gambar dan melihat hasilnya secara langsung.</p>
<p>Bahkan kamera bawah air sekarang menjadi pilihan terjangkau bagi masyarakat umum. Inovasi dan kebutuhan telah didorong oleh sejarah fotografi dan kamera itu sendiri. Dengan pengetahuan yang luas tentang teknik fotografi yang tersedia saat ini, inovasi lebih lanjut dapat diharapkan di masa depan.</p>
<p><em>Source: http://www.photography.com</em></p>
<br />Filed under: <a href='http://bennydesrinaldi.wordpress.com/category/photography/'>Photography</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bennydesrinaldi.wordpress.com/705/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bennydesrinaldi.wordpress.com/705/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bennydesrinaldi.wordpress.com/705/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bennydesrinaldi.wordpress.com/705/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bennydesrinaldi.wordpress.com/705/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bennydesrinaldi.wordpress.com/705/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bennydesrinaldi.wordpress.com/705/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bennydesrinaldi.wordpress.com/705/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bennydesrinaldi.wordpress.com/705/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bennydesrinaldi.wordpress.com/705/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bennydesrinaldi.wordpress.com/705/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bennydesrinaldi.wordpress.com/705/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bennydesrinaldi.wordpress.com/705/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bennydesrinaldi.wordpress.com/705/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bennydesrinaldi.wordpress.com&amp;blog=8663577&amp;post=705&amp;subd=bennydesrinaldi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennydesrinaldi.wordpress.com/2010/08/14/sejarah-kamera-dan-fotografi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61f3d73f6fa4160cad5f2a0e19187694?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">benn</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dendeng Minangkabau</title>
		<link>http://bennydesrinaldi.wordpress.com/2010/05/22/dendeng-minangkabau/</link>
		<comments>http://bennydesrinaldi.wordpress.com/2010/05/22/dendeng-minangkabau/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 May 2010 02:06:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>benn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennydesrinaldi.wordpress.com/?p=648</guid>
		<description><![CDATA[Di daerah Minangkabau, yang disebut dendeng hadir dalam begitu banyak versi. Secara umum, setidaknya ada empat jenis dendeng yang berhasil diidentifikasi, yaitu: dendeng balado, dendeng batokok, dendeng lambok, dan dendeng baracik. Tetapi, di dalam setiap jenis dendeng juga muncul berbagai varian. Setiap rumah makan di Sumatra Barat memiliki ciri-ciri dendengnya masing-masing. Standarisasi memang merupakan salah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bennydesrinaldi.wordpress.com&amp;blog=8663577&amp;post=648&amp;subd=bennydesrinaldi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bennydesrinaldi.files.wordpress.com/2010/05/dendeng-balado.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-649" title="dendeng balado" src="http://bennydesrinaldi.files.wordpress.com/2010/05/dendeng-balado.jpg?w=363&#038;h=241" alt="" width="363" height="241" /></a>Di daerah Minangkabau, yang disebut dendeng hadir dalam begitu banyak versi. Secara umum, setidaknya ada empat jenis dendeng yang berhasil diidentifikasi, yaitu: dendeng balado, dendeng batokok, dendeng lambok, dan dendeng baracik.</p>
<p>Tetapi, di dalam setiap jenis dendeng juga muncul berbagai varian. Setiap rumah makan di Sumatra Barat memiliki ciri-ciri dendengnya masing-masing. Standarisasi memang merupakan salah satu isu pelik dalam kuliner Indonesia.</p>
<p>Pada umumnya, hanya dendeng balado yang memakai cabe merah. Ketiga jenis dendeng lainnya memakai lado mudo atau cabe muda yang masih berwarna hijau. Cabe muda yang berwarna hijau ini tidak sepedas cabe yang sudah berwarna merah. Aromanya pun berbeda.</p>
<p><span id="more-648"></span></p>
<p>Yang disebut dendeng balado biasanya adalah dendeng tipis yang digoreng garing, lalu disiram dengan sambal berwarna merah. Sekalipun “penampakan”-nya mungkin sama, tetapi masing-masing rumah makan di Sumatra Barat ternyata tidak membuat dendeng baladonya dengan “pakem” yang sama.</p>
<p>Pertama, dari sisi dendengnya. Sebagian memakai cara mengiris daging sapi tipis-tipis, dibumbui, dijemur sampai kering, kemudian digoreng. Bumbunya sendiri berbeda-beda. Ada yang memakai ketumbar, ada yang tanpa ketumbar. Versi lain justru tidak dijemur. Dagingnya direbus dengan bumbu-bumbu, lalu diiris tipis-tipis, dan langsung digoreng sampai garing. Ada pula yang tidak dijemur dan tidak direbus, tetapi langsung digoreng.</p>
<p>Kedua, dari sisi sambal yang dipakai sebagai <em>topping</em>-nya. Yang wajib ada dalam bumbu balado ini adalah garam, bawang merah, cabe merah, perasan jeruk nipis. Ada versi lain yang menambahkan bawang putih. Kadang-kadang, ada pula yang menumis sebentar bahan-bahan tadi dengan minyak tanak atau minyak kelapa. Disebut minyak tanak karena dihasilkan dari santan kelapa yang ditanak.</p>
<p>Perbedaan proses itu membuat dendeng balado juga tampil dalam berbagai tingkat kerenyahan. Ada yang renyah sekali, tetapi ada juga yang alot dan keras. Ada yang <em>mak nyuss</em>, ada yang biasa-biasa saja.</p>
<p>Dalam “pencarian” dendeng balado yang paling juara, akhirnya harus diakui keunggulan sajian Restoran “Kembang Goela” – baik yang di Jakarta maupun yang di Bali. Harus diakui, proses pembuatannya tidak tradisional. Tetapi, hasil akhirnya sungguh dahsyat. Diduga, di “Kembang Goela” dimulai dengan pilihan daging yang bagus. Mungkin daging direbus dulu dalam bumbu-bumbu lengkap, lalu dibekukan. Dalam keadaan beku, daging diiris tipis (<em>shaved</em>) dengan mesin yang menghasilkan irisan setipis kertas. Setelah digoreng, hasilnya adalah dendeng renyah yang langsung hancur di mulut – dengan bumbu balado yang mendekati sempurna.</p>
<p>Maaf kalau masih memakai istilah “mendekati sempurna”. Soalnya, di “Kembang Goela” tidak dipakai bawang merah yang didatangkan dari Sumatra Barat. Harap dicatat, di ranah Minang, bawang merahnya berbeda dengan bawang merah di Jawa. Di sana bawang merahnya berukuran besar, rasanya pun khas – seimbang antara asam dan pedasnya. Bawang merah khas Minang inilah yang menjadi kunci keistimewaan dendeng balado.</p>
<p><a href="http://bennydesrinaldi.files.wordpress.com/2010/05/dendeng-batokok.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-650" title="dendeng batokok" src="http://bennydesrinaldi.files.wordpress.com/2010/05/dendeng-batokok.jpg?w=430&#038;h=286" alt="" width="430" height="286" /></a>Jenis dendeng lain yang populer di Sumatra Barat adalah dendeng batokok. Secara harafiah, ditokok berarti dipukul dengan palu. Proses pembuatan dendeng yang satu ini memang harus ditokok-tokok.</p>
<p>Karena favorit dendeng batokok adalah dari Rumah Makan “Mintuo” di lintasan Padang-Solok. Daging sapi mentah, direndam selama dua jam dalam bumbu dan rempah yang cukup kaya, yaitu: bawang merah, bawang putih, daun jeruk nipis, kunyit, lengkuas, jahe, dan garam. Semua bumbu dan rempah itu dihaluskan, lalu ditambah asam jawa yang dilarutkan dalam air.</p>
<p>Daging mentah yang sudah direndam bumbu ini kemudian diiris-iris dengan ketebalan sekitar satu sentimeter, lalu ditokok-tokok dengan batu agar seratnya pecah dan menjadi lebih tipis serta lebar. Ketika menokok-nokok itu, bumbu pun ikut meresap ke dalam serat-serat daging. Lembaran-lembaran daging mentah ini kemudian dibakar di atas bara arang tempurung kelapa. Setelah matang dan sebelum gosong, daging panggang dilumuri dengan minyak tanak.</p>
<p><em>Topping</em>-nya adalah lado mudo, bawang merah, perasan jeruk nipis, dan garam. Lado mudo dan bawang merahnya tidak digiling halus, sehingga masih tampak lebar-lebar bertaburan di atas dendeng.</p>
<p>Di rumah-rumah makan lain, ada dendeng batokok yang mengalami proses perebusan terlebih dulu. Ada juga yang dagingnya tidak dibakar atau dipanggang, melainkan digoreng – sekalipun tidak sampai garing. Versi dendeng batokok goreng ini biasanya adalah jenis yang direbus sebelumnya.</p>
<p>Di “Mintuo”, cabe muda yang dipakai sangat muda, sehingga tingkat kepedasannya pun masih rendah. Ini membuat rasa bawang merah mencuat dengan indahnya. Secara warna, dendeng batokok “Mintuo” juga tampil lebih cantik.</p>
<p><a href="http://bennydesrinaldi.files.wordpress.com/2010/05/dendeng-lambok.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-651" title="dendeng lambok" src="http://bennydesrinaldi.files.wordpress.com/2010/05/dendeng-lambok.jpg?w=300&#038;h=300" alt="" width="300" height="300" /></a>Versi dendeng yang ketiga adalah dendeng lambok. Dalam bahasa Minang, <em>lambok</em> berarti lembab. Dalam pengembaraan saya di ranah Minang, dendeng lambok inilah yang paling “kacau” atau paling banyak ragamnya. Salah satu elemen pembeda dendeng lambok dari dendeng balado dan dendeng batokok adalah digunakannya tomat hijau sebagai bahan bumbu baladonya.</p>
<p>Di satu rumah makan, dendeng lambok dalam bentuk daging sapi rebus dalam bumbu balado yang agak berkuah, sehingga lebih mirip gulai. Di rumah makan yang lain, dendeng lamboknya tampil mirip dendeng batokok plus tomat hijau. Mungkin karena ragamnya yang tidak jelas, hingga kini belum ditemukan dendeng lambok yang dapat dijagokan.</p>
<p>Jenis dendeng terakhir – yaitu dendeng baracik. Dendeng baracik hanya dapat dijumpai di satu lapau makan di lintasan Padang-Solok, tepatnya di Desa Talang, dekat Kayu Aro – kawasan penghasil teh terkenal. Menurut pemiliknya, Hajjah Emi, dendeng baracik memang eksklusif merupakan sajian di lepau nasinya. Resepnya diperoleh dari ayah mertuanya. Konon, ketika Emi muda sedang hamil, sang ayah mertua membuatkan dendeng khusus itu. Sensasi kelezatan itu tidak pernah dilupakan Emi, dan memicunya untuk membuat dendeng baracik sebagai sajian juara di kedainya.</p>
<p>Secara harafiah, <em>baracik</em> berarti diracik. Nomenklatur ini baru jelas maknanya bagi saya setelah <em>nyelonong</em> ke dapur untuk melihat bagaimana dendeng baracik itu dibuat. Ternyata, dendengnya dibuat dari potongan tebal daging bagian dada sapi (disebut gajebo di Minang, atau sandung lamur di Jawa).</p>
<p>Bungkah-bungkah gajebo itu dilumuri bumbu – antara lain ketumbar – dan kemudian dijemur sebentar agar layu, tetapi tidak sampai kering. Daging berbumbu yang sudah layu ini kemudian dibawa ke dapur. Dalam dapur yang panas dan penuh asap, proses pelayuan dendeng berlanjut.</p>
<p><a href="http://bennydesrinaldi.files.wordpress.com/2010/05/dendeng-baracik.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-652" title="dendeng baracik" src="http://bennydesrinaldi.files.wordpress.com/2010/05/dendeng-baracik.jpg?w=298&#038;h=225" alt="" width="298" height="225" /></a>Bila ada tamu yang memesan dendeng baracik, Hajjah Emi akan memotong-motong gajebo layu dengan ketebalan sekitar dua milimeter, besarnya sekitar lima kali lima sentimeter. Anda harus berada di dapur untuk menikmati sensasi aroma dendeng yang digoreng dengan sedikit minyak tanak atau minyak kelapa. <em>Tabik salero</em>!</p>
<p>Sementara dendengnya digoreng, Hajjah Emi merajang lado mudo, bawang merah, dan tomat. Dendeng yang sudah digoreng setengah kering itu diletakkan di piring, ditaburi semua rajangan, lalu dikucuri dengan perasan asam sundai (mirip jeruk purut, tetapi berukuran besar dan isinya berwarna kuning muda). Langsung diaduk dan dimakan dengan nasi hangat. Tekstur dendengnya garing di luar, lunak di dalam, dengan aroma daging layu dan ketumbar yang sangat khas. Bagian lemaknya juga memberi sensasi rasa yang sulit digambarkan.</p>
<p><strong>Onde mande, lamaknyo!</strong></p>
<p><em>dikutip dari Bondan Winarno</em></p>
<br />Filed under: <a href='http://bennydesrinaldi.wordpress.com/category/minangkabau/'>Minangkabau</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bennydesrinaldi.wordpress.com/648/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bennydesrinaldi.wordpress.com/648/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bennydesrinaldi.wordpress.com/648/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bennydesrinaldi.wordpress.com/648/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bennydesrinaldi.wordpress.com/648/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bennydesrinaldi.wordpress.com/648/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bennydesrinaldi.wordpress.com/648/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bennydesrinaldi.wordpress.com/648/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bennydesrinaldi.wordpress.com/648/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bennydesrinaldi.wordpress.com/648/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bennydesrinaldi.wordpress.com/648/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bennydesrinaldi.wordpress.com/648/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bennydesrinaldi.wordpress.com/648/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bennydesrinaldi.wordpress.com/648/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bennydesrinaldi.wordpress.com&amp;blog=8663577&amp;post=648&amp;subd=bennydesrinaldi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennydesrinaldi.wordpress.com/2010/05/22/dendeng-minangkabau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61f3d73f6fa4160cad5f2a0e19187694?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">benn</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bennydesrinaldi.files.wordpress.com/2010/05/dendeng-balado.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">dendeng balado</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bennydesrinaldi.files.wordpress.com/2010/05/dendeng-batokok.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">dendeng batokok</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bennydesrinaldi.files.wordpress.com/2010/05/dendeng-lambok.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">dendeng lambok</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bennydesrinaldi.files.wordpress.com/2010/05/dendeng-baracik.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">dendeng baracik</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lamang jo Tapai</title>
		<link>http://bennydesrinaldi.wordpress.com/2010/05/22/lamang-jo-tapai/</link>
		<comments>http://bennydesrinaldi.wordpress.com/2010/05/22/lamang-jo-tapai/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 May 2010 01:27:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>benn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennydesrinaldi.wordpress.com/?p=639</guid>
		<description><![CDATA[Kelantan di Malaysia memang sangat terkenal dengan lemang-nya, khususnya di bulan Ramadhan. Banyak penjual lemang di tepi-tepi jalan antarkota, sehingga kita dapat singgah untuk mencicipinya sambil melihat lemang-lemang yang sedang dibuat dan dibakar. Lho, tetapi, lemang ‘kan ada di Ranah Minang juga? Lemang – atau lamang dalam logat Minang – memang adalah tradisi Ramadhan, sekalipun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bennydesrinaldi.wordpress.com&amp;blog=8663577&amp;post=639&amp;subd=bennydesrinaldi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kelantan di Malaysia <a href="http://bennydesrinaldi.files.wordpress.com/2010/05/lamang-tapai.jpg"><img class="size-full wp-image-640  alignleft" title="OLYMPUS DIGITAL CAMERA" src="http://bennydesrinaldi.files.wordpress.com/2010/05/lamang-tapai.jpg?w=372&#038;h=496" alt="" width="372" height="496" /></a>memang sangat terkenal dengan lemang-nya, khususnya di bulan Ramadhan. Banyak penjual lemang di tepi-tepi jalan antarkota, sehingga kita dapat singgah untuk mencicipinya sambil melihat lemang-lemang yang sedang dibuat dan dibakar.<em></em></p>
<p><em>Lho</em>, tetapi, lemang ‘kan ada di Ranah Minang juga?</p>
<p>Lemang – atau lamang dalam logat Minang – memang adalah tradisi Ramadhan, sekalipun tetap dapat dinikmati sepanjang tahun. Sebulan sebelum Ramadhan biasanya disebut sebagai bulan Malamang – yaitu saatnya membuat lemang secara massal. Biasanya satu kampung membuat lemang bersama-sama, lalu menjelang matang, kaum laki-laki melakukan acara mandoa (berdoa bersama). Sambil berdiri mereka menyeru Allahuakbar berulang-ulang, kepala menggeleng ke kiri dan ke kanan. Banyak yang sampai <em>trance</em> ketika melakukan ini. Setelah itu, mereka menyantap lemang beramai-ramai. Tradisi penyucian ini dilakukan agar umat siap memasuki bulan seribu bulan.</p>
<p>Seperti diketahui, orang Minang paling suka menyantap lemang dengan tape dari ketan hitam yang sangat manis. Menjelang Idul Fitri, di mana-mana kita melihat para perantau Minang berjualan lamang jo tapai ini di seluruh pelosok Tanah Air.</p>
<p><span id="more-639"></span></p>
<p>Di Tebingtinggi, Sumatra Utara, banyak orang berjualan lemang di pasar. Di sana, biasanya lemang dimakan dengan srikaya (dibuat dari telur bebek dan gula pasir, lalu dikukus menjadi adonan kental). Di samping itu, banyak orang makan lemang dengan rendang atau dengan gulai. Hmm, sungguh pengalaman makan yang sangat unik.</p>
<p>Hampir semua penjual lemang di Pasar Tjong A Fie, Tebingtinggi, adalah perantau dari Sumatra Barat. Di gerobaknya selalu ditulis “lemang batok”. Lucunya, tidak seorang pun tahu kenapa disebut lemang batok. Penamaan itu karena lemangnya dibakar dengan arang dari batok (tempurung) kelapa. <em>Smokiness</em>-nya jadi beda dibanding dengan yang dibakar dengan kayu bakar biasa – seperti yang jamak dilakukan di Sumatra Barat.</p>
<p><strong>Nasi Jaha</strong></p>
<p>Tetapi, lemang tidak hanya ada di Sumatra. Di Bumi Minahasa juga ada. Cara memasaknya sama, tetapi ditambahi jahe (= jaha dalam bahasa daerah). Karena ada tambahan jahe inilah maka lemang di Sulawesi Utara sana disebut nasi jaha. Kenapa disebut nasi? Bahannya ‘kan bukan beras, melainkan ketan?</p>
<p>Nasi jaha bisa dimakan sebagai <em>snack</em>. Kalau Anda mampir ke rumah kopi di Manado, pasti ada nasi jaha, lalampa, dan kopi-kopi (semacam kue mangkok), yang bisa dikudap sambil menyeruput kopi. Tetapi, yang lebih umum, nasi jaha diperlakukan sebagai nasi dan dimakan dengan lauk-pauk.</p>
<p>Seperti di Tebingtinggi, orang Sulawesi Utara pun membakar nasi jaha dengan arang dari tempurung kelapa. Orang-orang dari Pulau Sangir, salah satu dari Kepulauan Sangihe Talaud yang terletak di bibir Samudra Pasifik, juga membuat nasi jaha dengan cara pembakaran yang sama. Di Sangir, nasi jaha lebih umum disebut bahundak.</p>
<p>Di Sulawesi Utara, nasi jaha merupakan menu wajib dalam setiap perhelatan yang diadakan. Nasi jaha memang cocok untuk segala macam menu masakan Minahasa. Tetapi, yang wajib dimakan dengan nasi jaha adalah masakan yang disebut pangi. Orang-orang non-Minahasa akan sulit menyukai pangi. Dibuat dari rajangan daun kluwek, lalu dibumbui dan dicampur lemak babi, dan dibakar dalam tabung bambu sampai warnanya mendekati hitam dan lemaknya hancur menjadi minyak. Bagi yang baru merasakannya, citarasanya dan teksturnya aneh. Tetapi, setelah beberapa kali mencobanya, pasti ketagihan.</p>
<p>Nasi jaha atau bahundak juga dapat dimakan dengan ikan bakar, dan colo-colo (sambal yang dibuat dari irisan cabe rawit, garam, dan lemon cui), atau dabu-dabu. Dabu-dabu adalah colo-colo yang ditambahi irisan tomat hijau dan bawang merah.</p>
<p>Di Sangir, katanya ada tradisi untuk menyanyikan berbait-bait pantun ketika membakar tabung-tabung bambu bahundak ini. Berbeda dengan di Sumatra Barat yang biasanya meletakkan tabung-tabung bambu melingkar dan ujungnya menyatu seperti kerucut, di Minahasa dan Sangir tabung bambunya dijejer berdiri agak miring. Jurumasak bahundak yang khusus ditunjuk akan berjalan di sepanjang deretan bambu sambil membalikkan tabung agar terpapar pada panas secara merata. Begitu sampai di ujung deretan tabung bambu, ia berputar kembali untuk melakukan hal yang sama. Uniknya, lagu selalu pas habis satu bait pantun pada ujung deretan tabung bambu, sehingga dimulai lagi dengan bait pantun berikutnya untuk membalikkan tabung-tabung bambu kembali.</p>
<p>Tidak semua orang boleh membelah tabung bambu bahundak yang sudah masak. Anak-anak harus sabar menanti sampai saatnya sang ayah memberinya izin untuk membelah bahundak. Artinya, pada waktu itu ia sudah dianggap dewasa untuk memikul tanggung jawab rumah tangga. Dengan kata lain, bahundak alias lemang adalah sebuah simbol budaya.</p>
<p>Di Bali, belum lama ini dalam sebuah acara adat yang melibatkan megibung (makan bersama secara komunal). Salah satu masakan yang disajikan adalah daging dan tulang kerbau yang dimasak dalam tabung bambu. Artinya, cara memasak di dalam tabung bambu ternyata banyak kita temukan di seantero Nusantara.</p>
<p>Anehnya, kenapa di Jawa dengan kultur kuliner yang juga tinggi tidak ditemukan cara masak dengan tabung bambu? Atau, karena belum menemukannya?</p>
<p><em>dikutip dari Bondan Winarno</em></p>
<br />Filed under: <a href='http://bennydesrinaldi.wordpress.com/category/minangkabau/'>Minangkabau</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bennydesrinaldi.wordpress.com/639/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bennydesrinaldi.wordpress.com/639/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bennydesrinaldi.wordpress.com/639/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bennydesrinaldi.wordpress.com/639/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bennydesrinaldi.wordpress.com/639/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bennydesrinaldi.wordpress.com/639/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bennydesrinaldi.wordpress.com/639/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bennydesrinaldi.wordpress.com/639/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bennydesrinaldi.wordpress.com/639/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bennydesrinaldi.wordpress.com/639/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bennydesrinaldi.wordpress.com/639/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bennydesrinaldi.wordpress.com/639/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bennydesrinaldi.wordpress.com/639/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bennydesrinaldi.wordpress.com/639/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bennydesrinaldi.wordpress.com&amp;blog=8663577&amp;post=639&amp;subd=bennydesrinaldi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennydesrinaldi.wordpress.com/2010/05/22/lamang-jo-tapai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61f3d73f6fa4160cad5f2a0e19187694?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">benn</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bennydesrinaldi.files.wordpress.com/2010/05/lamang-tapai.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">OLYMPUS DIGITAL CAMERA</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mau Spesialis or Generalis</title>
		<link>http://bennydesrinaldi.wordpress.com/2010/01/15/mau-spesialis-or-generalis/</link>
		<comments>http://bennydesrinaldi.wordpress.com/2010/01/15/mau-spesialis-or-generalis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jan 2010 17:56:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>benn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennydesrinaldi.wordpress.com/2010/01/15/mau-spesialis-or-generalis/</guid>
		<description><![CDATA[Wednesday, 25 November 2009 Beberapa hari terakhir selalu terpikir dengan perkataan seorang teman kantor beberapa waktu yang lalu, sudah cukup lama sebenarnya tapi karena belum sempat menulis sehingga jadi suatu wacana pemikiran yang cukup mengusik hati. Sang teman menyatakan kalau sekarang ini mesti mempunyai kemampuan spesialis bukan lagi generalis walaupun untuk mencapai posisi puncak di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bennydesrinaldi.wordpress.com&amp;blog=8663577&amp;post=531&amp;subd=bennydesrinaldi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Wednesday, 25 November 2009</em></p>
<p>Beberapa hari terakhir selalu terpikir dengan perkataan seorang teman kantor beberapa waktu yang lalu, sudah cukup lama sebenarnya tapi karena belum sempat menulis sehingga jadi suatu wacana pemikiran yang cukup mengusik hati. Sang teman menyatakan kalau sekarang ini mesti mempunyai kemampuan spesialis bukan lagi generalis walaupun untuk mencapai posisi puncak di perusahaan kita mesti mempunyai kemampuan generalis juga. Nah??</p>
<p><span id="more-531"></span></p>
<p>Spesialis disini adalah kemampuan dalam suatu bidang pekerjaan, kalau relevansi dengan pekerjaan saya sekarang, pertanyaannya adalah apakah akan menjadi accountant sejati, khususnya di internal perusahaan yang berfungsi menyediakan laporan keuangan lengkap dengan tetek bengeknya, seperti analisa laporan keuangan, laporan performa, perpajakan, budget dan segala macam yang terkait dengan angka-angka.</p>
<p>Ibarat kata orang-orang, sekarang ini yang dibayar mahal kalau sakit, ya dokter spesialis bukan dokter umum, mungkin analogi ini kurang tepat juga kalau dikaitkan dengan kebutuhan perusahaan yang selalu menuntut kita melakukan setiap tugas yang diberikan. Please don’t say no, always say yes i’’ll do it or at least i’ll try, walau setelah itu terpontang panting mencari source kemana-mana dan tetap berusaha perform terhadap penugasan yang diberikan.</p>
<p>Menjadi spesialis atau generalis entah kenapa kembali ditanyakan oleh seorang direktur perusahaan besar dalam suatu kesempatan, dia bertanya dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan mau jadi apa? seorang spesialis atau generalis, satu pertanyaan yang susah-susah gampang dijawab. Karena keduanya sama-sama dibutuhkan tergantung apa yang akan dituju nantinya dan mana yang paling nyaman dijalani.</p>
<p>Kalau melihat ke belakang, selama ini pekerjaan yang saya jalani mungkin telah mengalami kedua kondisi tersebut. Sewaktu jadi auditor, itu sudah merupakan pekerjaan spesialis yakni melakukan audit walau kebanyakan penugasan masih general audit dengan berbagai macam bidang usaha tidak terspesifikasi untuk klien bisnis atau industri tertentu. Kemudian juga pernah melakukan pekerjaan generalis, mulai dari keuangan, akuntansi, pajak, hrd, ga sampai it. Segitu banyaknya walaupun mungkin dalam skala kecil namun efeknya jadi tidak memahami suatu pekerjaan secara mendalam, namun cukup membuat saya bisa masuk ke dalam berbagai pembicaraan dan menjalaninya lebih berwarna karena selalu berbeda yang dihadapi.</p>
<p>Secara mendasar, memang saya bukan orang yang betah-an terhadap sesuatu. Begitu banyaknya bidang atau hal yang menarik perhatian, sehingga sampai saat ini belum mempunyai hobi yang jelas salah satu contohnya. Masih suka melakukan sesuatu yang menurut pemikiran saya enak dan menyenangkan dilakukan, mulai dari pelihara ikan, waktu kecil dulu sih,  main games, sampai sekarang masih kepengen juga dan kadang terlalu menikmati,  otak atik komputer, walau hanya begitu-begitu saja tidak sampai tahap menguasai keahlian tertentu, modifikasi motor juga pernah tapi tidak serius karena high cost ternyata, koleksi mobil-mobil yang ternyata mentok juga. Sekarang ini mulai menekuni fotografi dan sepertinya sangat menarik walau sebenarnya ini hobi mahal buat saya.</p>
<p>Dalam fotografi banyak hal yang bisa dituangkan, bisa mengambil gambar dengan kualitas bagus serta penuh dengan “art” sebagai suatu kepuasan tersendiri. Motret ibarat melukis tapi dengan cahaya, dan masih bisa diotak atiknya di komputer sehingga menghasilkan foto yang penuh imajinasi, tapi belum bisa, masih tahap belajar karena ternyata sulit juga, semoga ini tidak menjadikan saya bosan dan merasa mentok karena semua hobi yang pernah dijalani berakhir karena merasa tidak berkembang lagi atau mungkin kata yang paling tepat adalah semakin didalami kok semakin bego’.</p>
<p>Terkait dengan pertanyaan yang menggelitik tadi, sepertinya dari memang saatnya harus memutuskan apakah menjadi spesialis atau generalis. Dengan latar belakang sekarang, seharusnya menjadi seorang spesialis karena dari pekerjaan yang dijalani saat ini telah menuntut untuk menjadi seorang spesialis, jadi accountant. Namun dalam konteks perusahaan, terutama perusahaan menengah, sering tidak dituntut seorang spesialis tetapi seorang generalis karena hanya akan menambah cost perusahaan jika harus membuat spesialisasi tertentu. Sehingga kalau diliat sekarang ini seorang spesialis sering lahir atau berkarir di perusahaan konsultan. Seorang konsultan ibarat nabi di bidangnya karena memang itu lah yang menjadi barang dagangnya sebagai orang yang experience di bidangnya.</p>
<p>Sekarang mau jadi speasialis or generalis?? Let time will tell or tell the time what am i wanna be.</p>
<br />Posted in Journal  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bennydesrinaldi.wordpress.com/531/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bennydesrinaldi.wordpress.com/531/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bennydesrinaldi.wordpress.com/531/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bennydesrinaldi.wordpress.com/531/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bennydesrinaldi.wordpress.com/531/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bennydesrinaldi.wordpress.com/531/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bennydesrinaldi.wordpress.com/531/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bennydesrinaldi.wordpress.com/531/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bennydesrinaldi.wordpress.com/531/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bennydesrinaldi.wordpress.com/531/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bennydesrinaldi.wordpress.com/531/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bennydesrinaldi.wordpress.com/531/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bennydesrinaldi.wordpress.com/531/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bennydesrinaldi.wordpress.com/531/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bennydesrinaldi.wordpress.com&amp;blog=8663577&amp;post=531&amp;subd=bennydesrinaldi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennydesrinaldi.wordpress.com/2010/01/15/mau-spesialis-or-generalis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61f3d73f6fa4160cad5f2a0e19187694?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">benn</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bekerja untuk Orang Lain, Masih Menjadi Pilihan</title>
		<link>http://bennydesrinaldi.wordpress.com/2010/01/15/bekerja-untuk-orang-lain-masih-menjadi-pilihan/</link>
		<comments>http://bennydesrinaldi.wordpress.com/2010/01/15/bekerja-untuk-orang-lain-masih-menjadi-pilihan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jan 2010 17:21:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>benn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennydesrinaldi.wordpress.com/?p=527</guid>
		<description><![CDATA[Sunday, 17 August 2009 Saya jadi teringat beberapa minggu yang lalu saat melakukan interview, bareng dengan hrd, buat penggantian staf di departemen saya. Sedikit terlambat dari appointment, sesuatu yang kata orang wajar, merupakan bagian dari proses seleksi berupa ujian kesabaran si calon untuk menunggu. Jadi ingat ketika masuk perusahaan ini, saya juga harus menunggu hampir [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bennydesrinaldi.wordpress.com&amp;blog=8663577&amp;post=527&amp;subd=bennydesrinaldi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Sunday, 17 August 2009</em></p>
<p>Saya jadi teringat beberapa minggu yang lalu saat melakukan interview, bareng dengan hrd, buat penggantian staf di departemen saya. Sedikit terlambat dari <em>appointment</em>, sesuatu yang kata orang wajar, merupakan bagian dari proses seleksi berupa ujian kesabaran si calon untuk menunggu. Jadi ingat ketika masuk perusahaan ini, saya juga harus menunggu hampir 4 jam, dan sudah berpikir untuk pulang saja daripada ketinggalan pesawat. Bagian dari profesionalisme atau memang sudah kebiasaan? saya selalu berpikir untuk tetap komit dengan <em>appointment</em>.</p>
<p><span id="more-527"></span>Kembali ke proses interview tersebut, saya mengamati, ternyata semua calon staf menjawab dengan suatu”<em>scheme</em>” yang sudah dibenamkan ke dalam otak mereka bahwa akan ditanya hal-hal standar, seperti kelemahan dan kekuatan apa, mengapa memilih pekerjaan ini, apa yang diketahui mengenai perusahaan ini, berapa gaji yang diminta dan sebagainya. Saya tidak memahami, mengapa mereka sudah membatasi diri dengan menjawab dengan jawaban yang seolah-olah sudah disiapkan dan dihafalkan di kepala mereka, ataukah memang pertanyaan tersebut yang selalu muncul dalam setiap interview?</p>
<p>Ya, karena dari beberapa buku-buku yang beredar di toko-toko buku tentang cara menghadapi pertanyaan seputar interview pekerjaan, semuanya pasti akan memberikan tips dan trick atas pertanyaan standar seperti di atas dengan pola jawaban yang “tepat”. Benar yang disampaikan buku-buku itu, tapi <em>interviewer</em>, seorang hrd atau pun saya yang tidak punya <em>basic</em> hrd, pasti bisa menangkap bahwa jawaban tersebut sangat normatif sekali, suatu jawaban dengan kondisi yang ideal sehingga tidak terdengar “jujur” lagi mengenai diri mereka sendiri. Cenderung tidak mempunyai keberanian “menjual diri” lebih jauh lagi, dengan posisi <em>defense</em> menunggu pertanyaan demi pertanyaan untuk kemudian dijawab dengan hafalan yang sudah di <em>prepare</em> dari rumah.</p>
<p>Terlepas dari hal tersebut di atas, saya tidak memberikan <em>suggest</em> dalam menghadapi wawancara, karena semua yang dipaparkan dalam buku-buku tersebut sudah sangat lengkap, tinggal bagaimana membaca kebutuhan si <em>interviewer </em>sehingga tidak terpaku dengan jawaban-jawaban pragmatis dan normatif.</p>
<p>Satu hal yang menarik perhatian saya saat me-wawancara salah seorang kandidat adalah ternyata dia sudah mempunyai usaha sendiri, walau masih punya orang tuanya. Dia mempunyai lahan yang disewakan untuk penyewaan pemancingan. Mekanismenya, si penyewa membayar Rp 14.000/kg untuk kemudian dipancing tanpa pembatasan waktu dan berapa kg pun hasil pancingannya. Rata-rata sehari dia bisa menjual 50 kg dengan waktu pancing 24 jam, gila juga kapan istirahatnya ya? Sebagai seorang accountant, otak saya langsung mengkalkulasikan <em>income </em>ini orang, takut juga menawarkan gajinya mau berapa nih. Sehari dia punya omzet Rp 700.000 atau minimal Rp 17.500.000/bulan.</p>
<p>Katanya dia bisa memperoleh bersih 50% dari omzet tersebut. Menarik, dia sudah mempunyai penghasilan yang jauh daripada yang bakal diperoleh jika bekerja di perusahaan ini. Tapi ternyata dia tetap tertarik untuk bekerja di suatu perusahaan, alasannya sederhana, ingin menjadi manajer suatu saat, mungkin 5 tahun ke depan, menggunakan ilmu yang dipelajarinya, dia bisa merintis mimpinya dan kebetulan kakaknya tamatan akuntansi semua. Ketika saya bertanya, pernahkah kamu membuat laporan keuangan usahanya? Jawabnya tidak, manajemen “mesjid”, hanya catatan uang masuk dan uang keluar saja. Artinya dia sendiri tidak mulai dari yang kecil lebih dahulu untuk mengelola usahanya sendiri yang mungkin lebih prospektif dibandingkan dia bekerja di perusahaan ini. Saya cuma bilang, coba kamu itung, bisa belajar dan menerapkan ilmu yang diperoleh, dan saya berharap dia berubah pikiran untuk bekerja untuk orang lain nantinya.</p>
<p>Itulah pilihan, kalau kembali ke diri sendiri, saya termasuk orang yang tidak betah dengan pekerjaan yang itu-itu saja. Mempunyai cita-cita untuk mempunyai usaha sendiri, bekerja untuk diri sendiri, mengelola sesuai dengan konsep yang saya inginkan, tidak dibatasi oleh atasan atau pemilik modal. Ternyata sulit memang, dari sejak kecil saya sudah “melatih” diri untuk jadi pedagang, maklum orang minang. Pernah dagang es saat ada kegiatan di gelanggang olahraga dekat rumah atau jual permen “cabutan” yang ada hadiahnya.</p>
<p>Waktu kuliah buka usaha rental komputer bersama teman-teman, gagal karena kiris ekonomi dan malah kuliah jadi berantakan. Konsepnya bagus sebenarnya karena pertama kalinya ada rental komputer di kota Padang dengan basis Windows dan Microsoft Office, dengan mengumpulkan komputer di rumah masing-masing. Masak, buka usaha jam 4 sore sampai jam 4 pagi, mengerjakan orderan jasa pengetikan rame-rame, akibatnya hidup jadi tidak teratur. Tempat usahanya sering jadi markas buat persiapan demo di kampus atau Sumbar. Maklum salah seorang teman dikenal sebagai aktivitis Sumbar.</p>
<p>Kemudian buka usaha rental games juga gagal karena baru beberapa bulan, tokonya dibobol dan peralatan digondol maling. Tapi tidak rugi banyak karena cuma jadi pemilik minoritas. Terakhir buka usaha perlengkapan <em>safety riding</em> sambil tetap bekerja di salah satu main dealer sepeda motor. Karena ada ketidakcocokan dengan pekerjaan, akhirnya memutuskan kembali bekerja di Jakarta, bekerja dengan orang lain lagi sehingga usahanya terbengkalai dan akhirnya di-lego.</p>
<p>Mentalitasnya ternyata masih mental karyawan, masih belum punya keberanian untuk mengambil sikap untuk berusaha sendiri, <em>fighting spirit</em> nya kurang. Bekerja sambil berusaha seharusnya bisa kata orang, tapi saya melihatnya sesuatu yang justru menjadi tidak jelas, karena akan setengah-setengah. Untuk berusaha sendiri butuh konsekuensi besar untuk fokus dengan usaha yang dimiliki dan terjun langsung. Begitu juga bekerja dengan orang lain harus menjaga profesionalisme sehingga kualitas pekerjaan sesuai dengan harapan perusahaan yang sudah membayar.</p>
<p>Akhirnya sekarang saya kembali menjalani hari-hari sebagai karyawan perusahaan, dengan segala konsekuensinya, tidak bisa berbuat sesuai keinginan karena adanya batasan, baik dari pimpinan maupun peraturan perusahaan itu sendiri. Hampir semua teman saya bertanya, sampai kapan kamu akan bertahan? Entahlah, saya berpikir suatu saat saya harus mempunyai usaha sendiri dan terjun <em>full</em> di dunia itu. Sekarang ini bekerja dengan orang lain masih menjadi pilihan, kalau pun nanti akan tetap seperti ini, semoga bisa bekerja di tempat yang bisa memenuhi rasa kenyamanan saya.</p>
<br />Posted in Journal  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bennydesrinaldi.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bennydesrinaldi.wordpress.com/527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bennydesrinaldi.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bennydesrinaldi.wordpress.com/527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bennydesrinaldi.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bennydesrinaldi.wordpress.com/527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bennydesrinaldi.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bennydesrinaldi.wordpress.com/527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bennydesrinaldi.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bennydesrinaldi.wordpress.com/527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bennydesrinaldi.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bennydesrinaldi.wordpress.com/527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bennydesrinaldi.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bennydesrinaldi.wordpress.com/527/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bennydesrinaldi.wordpress.com&amp;blog=8663577&amp;post=527&amp;subd=bennydesrinaldi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennydesrinaldi.wordpress.com/2010/01/15/bekerja-untuk-orang-lain-masih-menjadi-pilihan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61f3d73f6fa4160cad5f2a0e19187694?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">benn</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
